Jaman sekarang, apa-apa online. Dari pendaftaran calon mahasiswa sampe siswa SD. Dari tiket travel sampai tiket nonton bola. Ups jangan-jangan ada yang masih ga tau arti online itu apa. Ckckck...
Secara garis besar, yang saya lihat belakangan ini, tingkat melek teknologi dikalangan 7-20 tahun meningkat drastis. Saya ga perlu bikin survey gede-gedean. Cukup liat fakta bahwa semakin banyak wajah-wajah imut yang jadi profile picture di Facebook. Semakin banyak adik teman-teman yang nge-request saya. Itu sudah jadi suatu bukti bahwa mereka makin canggih.
Tepat saat saya menulis post ini, di depan saya ada 4 orang anak, memakai rok SD suatu sekolah swasta bonafide yang masing-masing memegang Blackberry. Ketawa cekikikan sambil BBM-an. Ngobrol ngalor-ngidul sampai sempat jadi pusat lirikan pengunjung yang lewat. Meskipun masih cupu, tapi jelas sekali mereka sudah bergaya, mengikuti trend terbaru.Itu artinya mereka sudah jauh lebih canggih daripada waktu saya SD, setidaknya begitu.
Facebook saya jadikan tolak ukur seseorang yang melek teknologi. Kenapa??
Saat ini, Facebook-lah yang menduduki peringkat pertama jejaring sosial sekaligus website terfavorite. Facebook-lah yang memberi segala kemudahan berkomunikasi dan yang paling sederhana. Hampir semua yang mempunyai Twitter juga terdaftar di database Facebook, tapi yang memiliki account Facebook belum tentu memiliki account Twitter. Sekali lagi, Facebook lebih diminati karena Facebook lebih mudah digunakan.
Saya berani mewajibkan semua orang untuk melek teknologi. Kita bisa lihat dari kasus tadi, dikit-dikit online, apa-apa online. Kebayang kan kalo kita gagal mendapatkan sesuatu yang bersifat online hanya gara-gara gaptek? Ga lucu deh...
SALAH. Salah besar jika orangtua melarang anaknya untuk online, dengan alasan klasik bahwa dunia maya itu berbahaya, penuh tipuan dan gambar-gambar porno. Saya diperbolehkan online sejak dulu, bahkan diajarkan cara mengakses suatu website. Buktinya saya tidak tumbuh menjadi anak mesum yang suka kopdar-kopdar ga jelas.
Mereka menanamkan akhlak dan juga menjelaskan apa-apa saja konten dunia maya tanpa membuat saya takut atau bahkan malah menjadi penasaran dengan keburukan yang “mengasyikkan”.
1 lagi permasalahan terlepas dari seseorang itu gaptek atau tidak.
Yap, kemampuan berbahasa Inggris. Okelah kita bisa mengakses Facebook dan situs jejaring lainnya dengan bahasa Indonesia. Tapi dalam suatu agreement atau kesepakatan dalam dunia maya (seperti setelah melakukan suatu registrasi) sering kali tidak ditemukannya subtitle berbahasa Indonesia. Padahal dalam agreement tersebut berisi point-point penting yang wajib dibaca. Masuk ke dunia maya sama saja dengan keluar negri, berbaur dengan jutaan orang di dunia. Tanpa bahasa Internasional yang mumpuni, bisa saja kita menjadi korban penipuan.
Udah dulu yak, mo pulang neh. See you at next posting!! :D
No comments:
Post a Comment