Monday, March 7, 2011

Untitled

Aku paham, aku tahu, aku mengerti dan –ehem, aku tidak terlalu bodoh. Hanya saja otakku sama sekali enggan dikontrol, enggan dikungkung dalam bentuk apapun. Aku bebas sebebas bebasnya, aku berpikir apa yang ingin aku pikirkan. Tanpa kecuali, bahkan untuk sesuatu yang dianggap tidak pantas untuk dipikirkan. Itu semua membuatku kurang peka dengan perasaan orang lain. Aku ingin hidup dengan caraku, tapi aku tidak pernah memaksa oranglain mengikutiku.

Kau datang, dengan segala kebahagiaan yang tak terperi, selalu membuatku tertawa dan –yeah tanpa kau sadari aku selalu merindumu. Pun dirimu yang kuat dengan aturan. Tapi entahlah, aku selalu mengikuti apa yang kau mau, aku tidak punya pendirian, aku terlihat tolol tapi sialnya aku tidak pernah merasa tolol. Apapun yang kau larang selalu beralasan, alasannya selalu benar, dan selalu bertemakan “demi kebaikanku”. Dewa, benar-benar dewa!

Kau membuatku melawan arus, berdiri dan hidup sebagai orang lain. Hey, it’s not me! Batinku menjerit.Tapi malangnya aku nyaman dengan semua instruksimu, aku merasa diperhatikan dan DISAYANG. Itu yang membuatku bertahan, aku GILAAAAA!!! Tapi aku tidak bodoh, sekali pemirsa, aku tidak bodoh karena secara sadar aku mendukungnya merubahku. Tidak usah kalian, aku saja sama sekali tidak mengerti. NOL besar.

Saturday, February 19, 2011

Karena Ia Sayang Padaku

Ia memberikan sakit agar semakin banyak orang yang memperhatikan dan mendorongku melaju lebih cepat daripada orang lain, dan agar aku kuat merasakan sakit-sakit lain yang entah kapan akan menjangkitiku. Itu tandanya Dia sayang padaku.

Ia memberikanku masalah yang tidak pernah habis agar aku belajar memecahkannya dengan sabar dan bijaksana. Saat aku mampu menyelesaikan satu masalah, Dia akan memberikan masalah lain yang lebih rumit hingga tanpa disadari, aku tumbuh menjadi seorang yang matang, yang siap menghadapi zaman. Lagi-lagi Dia sayang padaku.

Seseorang menegurku dikala salahpun karena Ia sayang padaku. Buktinya, aku akan menjadi pribadi yang lebih baik dikemudian hari.

Saat aku kehilangan sesuatu atau seseorang yang kucintaipun tak lain adalah kehendak baik-Nya, agar aku selalu menyadari bahwa yang menurutku baik belum tentu yang terbaik bagi-Nya. Ia berusaha "mencubit"ku saat aku mulai mencintai makhluknya melebihi cintaku pada-Nya. Ia cemburu, Ia tidak ingin aku berpaling.

Ia mengirimkan seseorang untuk menghinaku agar kepalaku yang mulai mendongak karena kebanggaan duniawi ini kembali dan akan terus tertunduk. Ia tidak ingin aku menjadi hamba yang sombong dan tidak pandai bersyukur.

Ia mengirimkan badai dan kesulitan-kesulitan agar aku terus menyapanya dalam do'a. Ia membentukku dengan tangan-Nya, atau melalui tangan oranglain. Namun Ia tidak jahat, Ia tidak buta. Saat aku berhasil melewati setiap tahap pendewasaan Ia akan memberikanku hadiah, dan saat itulah Ia mengujiku kembali, apakah aku tetap mengingat-Nya atau menjadi seperti anak kecil yang sibuk dengan cokelat pemberian ayahnya.

Sakit, masalah, teguran, kehilangan, penghinaan, dan kesulitan-kesulitan lain adalah bibit kebahagiaan kita dikemudian hari. Dia-lah yang menanamkannya disini, dalam diri kita. Jika pupuk yang ingin kita berikan, maka responlah tantangan dan kesulitan itu dengan POSITIVE dan IKHLAS agar kita dapat menikmati hasil baiknya dikemudian hari.

"Terima kasih, Ya Allah. Hidupku lengkap bertemankan masalah, itu tandanya Kau menghendaki kebaikan dihari dewasaku..."