Friday, December 31, 2010

WELCOME 2011!!

Great fireworks, great night and I hope it not just for wasting money and time. We celebrate it for a new hope, a new spirit!

My wishes and to-do-list in 2011:

  • Success in my academic and my business.
  • More patient to therapy, check up and I can do everything I want without pain.
  • Collect min. 200 books, and read it exactly :D
  • Go backpacking: Semarang, Malang, Surabaya, Bali, Lombok. Yuhuuu!! \:D/
  • Start to write science articles.
  • Being active on campus.

And I And I wish for Indonesia:

  • Peaceful, justice and NO CORRUPTION.
  • Increasing export, decreasing import and poverty. #yihaa..
  • No disaster, no chaos and no terrorism.

Allah, Allah, help us to do something better for Islam, for ourself, for our family and for Indonesia..

Thursday, December 30, 2010

AFF 2010, UAS dan Tahun Baru

Indonesia menang, tapi bukan juara. Skor agregat tertinggal 2 dari Malaysia. Tapi rata-rata semua senang, semuanya bangga.

Final leg 2 kemarin bertepatan dengan UAS hari pertama gue. Pengawas ujian keliatan ga peduli anak-anak udah pada ga sabar pengen keluar ruangan, padahal kalo gue liat-liat sih beliau juga udah ga konsen, mungkin sambil nunggu travel yang nganter directly ke Senanyan.

“Lah buset dah ni soal apa soal? Banyak bener...!! “, temen sebelah gue bisik-bisik. “Gue belom pesen travel nih.. Lupa! Ah sial!! “.

Hampir ga ada yang belajar, mungkin gara-gara kepikiran Indonesia kalah telak di leg 1. Belom lagi ikut esmosi gara-gara laser beam incident itu. Pokoknya bikin mood drop, bikin ga nafsu makan (kalo yang ini ga mungkin aja..).

Saking hebohnya AFF, tahun baru nanti ga kedengeran gaungnya, apalagi UAS. Lebih banyak yang jualan jersey timnas, laser sama poster Irfan Bachdim daripada jualan terompet. Ya kali udah pada capek marah-marah, capek demo si Nurdin turun atau pada sakit gara-gara keinjek pas ngantri tiket di GBK. Biasanya jelang tahun baru kaya gini banyak stasiun TV yang ngundang paranormal buat nerawang gimana kondisi Indonesia tahun 2011, tapi kemaren Ki Joko Bodo kebagian nerawang skor Indonesia-Malaysia doang. Kemunduran? Mungkin :D

Kalo yang tadinya udah berencana buat Tahun Baru di Bali, Jogja, Lombok atau Batam pasti udah lipet-lipet kolor, siapin koper yang maha besar, trus lagi mimpi nanti mo ngapain aja. Tapi buat yang ga bakal kemana-mana, atau yang duitnya habis gara-gara nonton kemaren ga usah kecewa! Patungan beli jagung, areng sama blueband trus bikin api di halaman belakang rumah, bakar-bakar deh. Sukur kalo ada sedikit uang lebih beli ayam ato ikanlah, biar rada berasa dikit. Ga usah beli mercon.. Liatin orang main mercon juga udah terhibur kok! :D

Pokonya tulisan kali ini aneh, ga nyambung dan nyampur-nyampur.Biariiin!! Yang penting saya nulis.

Yok ah kita tidur panjang. Anggap saja ga ada UAS diantara kita supaya bisa nikmatin ayam bakar rasa ayam besok malam.

Tuesday, December 28, 2010

Inginku hanya aku dan Dia yang tahu..

Jatuh bangun aku menutupi semuanya, berusaha menetralisir rasa bersalah dan berdosa yang menghentak-hentak kepala, juga bathin. Sering kali aku menampar diri sendiri, mengutuki atas ketidak berdayaan ini. Tuhan, apa salahku sehingga Kau “anugerah”kan perasaan ini? Mengapa aku? Mengapa bukan dia saja yang sedang berdiri disana? Atau dia yang duduk disebelahku??

Tak lelah aku berusaha mendobrak, aku ingin melarikan diri dan kemudian mati agar tidak ada lagi yang mencelaku. Aku lelah berbohong, aku lelah memiliki beban yang tak satupun orang di dunia ini yang mampu mengerti. Aku takut menjadi sampah bagi keluargaku. Aku memendamnya sendiri, sekarat dalam diam dan akhirnya mati rasa. Hadirku mengundang cemooh, Tuhanku, apa ini adil? Aku tidak tahu menahu, Rabb! Tapi setidaknya aku sadar bahwa kini aku beranjak dewasa dan ini menjadi masalah.

Sifatku yang memang tidak pernah terbuka sangat mendukung suasana. Aku tidak takut dibuang, aku tidak gentar dihina. Tapi aku takut meninggalkan jejak buruk, aku menyerah jika harus melihat mereka yang kucinta menangis, dan aku akan bunuh diri jika mereka turut menanggung bebanku. Dunia akan lebih tidak adil jika itu terjadi.

Jangan mencoba mengulurkan tanganmu, karena aku masih berdiri, aku tidak butuh dibangkitkan, aku tidak sedang terjatuh.

Jangan berlagak mengguruiku, aku tidak bodoh, aku mengetahui semuanya.

Jangan mengingatkanku, aku tidak lupa. Dan tidak akan pernah lupa.

Jangan bilang kau akan memahamiku, karena tidak satupun dari kalian yang akan mengerti. Kalian hanya akan pergi sesaat setelah mengetahui apa yang kalian anggap sebagai cerita “biasa”. Kalian tidak perlu memamerkan kepalsuan, karena aku sudah bosan dengan itu.

Mengerang dalam gelap, meraung dan menampar dalam malam. Tidak ada mimpi indah dalam umur dewasaku. Aku ingin Tuhan memahamiku, aku ingin Ia memberiku waktu. Diatas ketidak berdayaanku aku memohon pengampunan, atas dosa diatas dosa yang aku miliki.

Wednesday, December 22, 2010

Yang Kita Butuhkan Dijaman Ini...

Jaman sekarang, apa-apa online. Dari pendaftaran calon mahasiswa sampe siswa SD. Dari tiket travel sampai tiket nonton bola. Ups jangan-jangan ada yang masih ga tau arti online itu apa. Ckckck...

Secara garis besar, yang saya lihat belakangan ini, tingkat melek teknologi dikalangan 7-20 tahun meningkat drastis. Saya ga perlu bikin survey gede-gedean. Cukup liat fakta bahwa semakin banyak wajah-wajah imut yang jadi profile picture di Facebook. Semakin banyak adik teman-teman yang nge-request saya. Itu sudah jadi suatu bukti bahwa mereka makin canggih.

Tepat saat saya menulis post ini, di depan saya ada 4 orang anak, memakai rok SD suatu sekolah swasta bonafide yang masing-masing memegang Blackberry. Ketawa cekikikan sambil BBM-an. Ngobrol ngalor-ngidul sampai sempat jadi pusat lirikan pengunjung yang lewat. Meskipun masih cupu, tapi jelas sekali mereka sudah bergaya, mengikuti trend terbaru.Itu artinya mereka sudah jauh lebih canggih daripada waktu saya SD, setidaknya begitu.

Facebook saya jadikan tolak ukur seseorang yang melek teknologi. Kenapa??

Saat ini, Facebook-lah yang menduduki peringkat pertama jejaring sosial sekaligus website terfavorite. Facebook-lah yang memberi segala kemudahan berkomunikasi dan yang paling sederhana. Hampir semua yang mempunyai Twitter juga terdaftar di database Facebook, tapi yang memiliki account Facebook belum tentu memiliki account Twitter. Sekali lagi, Facebook lebih diminati karena Facebook lebih mudah digunakan.

Saya berani mewajibkan semua orang untuk melek teknologi. Kita bisa lihat dari kasus tadi, dikit-dikit online, apa-apa online. Kebayang kan kalo kita gagal mendapatkan sesuatu yang bersifat online hanya gara-gara gaptek? Ga lucu deh...

SALAH. Salah besar jika orangtua melarang anaknya untuk online, dengan alasan klasik bahwa dunia maya itu berbahaya, penuh tipuan dan gambar-gambar porno. Saya diperbolehkan online sejak dulu, bahkan diajarkan cara mengakses suatu website. Buktinya saya tidak tumbuh menjadi anak mesum yang suka kopdar-kopdar ga jelas.

Mereka menanamkan akhlak dan juga menjelaskan apa-apa saja konten dunia maya tanpa membuat saya takut atau bahkan malah menjadi penasaran dengan keburukan yang “mengasyikkan”.

1 lagi permasalahan terlepas dari seseorang itu gaptek atau tidak.

Yap, kemampuan berbahasa Inggris. Okelah kita bisa mengakses Facebook dan situs jejaring lainnya dengan bahasa Indonesia. Tapi dalam suatu agreement atau kesepakatan dalam dunia maya (seperti setelah melakukan suatu registrasi) sering kali tidak ditemukannya subtitle berbahasa Indonesia. Padahal dalam agreement tersebut berisi point-point penting yang wajib dibaca. Masuk ke dunia maya sama saja dengan keluar negri, berbaur dengan jutaan orang di dunia. Tanpa bahasa Internasional yang mumpuni, bisa saja kita menjadi korban penipuan.

Udah dulu yak, mo pulang neh. See you at next posting!! :D

Monday, December 13, 2010

MDGs: menyoroti kesetaraan gender.

Hari Sabtu kemarin saya ikut seminar keren, pembicaranya ga usah ditanya, pakar semua dan mereka ga usah diraguin lagi kemampuannya, ada Pak Hendar, Deputi Kebijakan Moneter BI, Ibu Vivi Alatas, salah satu pejabat World Bank, Bapak Soebandi Sardjoko, selaku Direktur Kependudukan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Bappenas dan Ibu Prof. Rina Indiastuti, ekonom super canggih dari Unpad.hahaha.. :D.

Apaan sih MDGs?

Millenium Development Goals 2010, suatu rumusan tentang tujuan untuk tahun 2015, bukan hanya di Indonesia, tapi hampir diseluruh dunia turut memperhatikan permasalahan permasalahan ini. Point-point dalam MDGs adalah:

1. Poverty and hunger (kemiskinan dan kelaparan)
2. Basic Education (pendidikan dasar)
3. Gender Equality (kesetaraan gender)
4. Children Mortality (kematian anak-anak)
5. Maternal Health (kesehatan ibu)
6. HIV/AIDS
7. Environment (lingkungan)
8. The Global Partnership for Development (kemitraan pembangunan global)

Dari kedelapan point tersebut beberapa diantaranya mengalami perbaikan yang signifikan, baik dalam skala global, nasional ataupun daerah. Tapi disini saya hanya akan menyoroti point no 3: Gender Equality dalam pendidikan di Indonesia.

Umumnya, dalam masalah gender pihak perempuanlah yang dirugikan. Sering diibaratkan perempuan adalah objek dalam etalase dan lelakilah yang punya kuasa untuk menunjuk satu diantaranya dan kemudian memilikinya. Itu adalah sebuah pandangan kuno yang sangat low educated, setidaknya menurut saya. Apalagi masalah poligami yang kemarin sempat santer diberitakan, lagi-lagi menurut saya perempuanlah objek penderita. Eits, jangan bilang saya liberal, atau bukan muslim. Saya muslim, dan saya melihat dalil tentang poligami itu dijadikan tameng bagi mereka yang salah kaprah.

Lalu, apa hubugannya dengan pendidikan?

Mengutip dari pembicaraan Bapak Soebandi kemarin, angka kesetaraan gender di tingkat sekolah dasar sampai sekolah menengah atas di Indonesia meningkat. Perbandingan jumlah siswa dan siswi cenderung seimbang dibandingkan beberapa tahun yang lalu.

Namun gap terlihat di tingkat perguruan tinggi. Hasil research menunjukkan bahwa anak perempuanlah yang lebih banyak melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi dan mendapatkan nilai cumlaude, “jangan salahkan anak perempuan, kemana nih anak cowo-cowonya??”, cetus Pak Soebandi.

Menjawab pertanyaan itu, muncul pemikiran yang ada tololnya tapi ada benernya juga:

1. Laki-laki mungkin lebih tertarik kerja.

Ga usah nyangkal, tuntutan ekonomi semua dibebankan kepada pihak laki-laki. Bisa diinjek-injek harga dirinya kalo masih nganggur.

2. Lebih suka main cewe’ daripada main kalkulator.

Mulai ngaco..

3. Makin banyak yang pengen jadi artis.

Ngaco lagi.

4. Merriage orientation.

Yang ini mungkin bener.

Gagal lagi bikin tulisan yang lebih ilmiah, segini dulu cukup ya temans, semi ilmiah juga lumayan kan?? Ada saatnya kalau mood saya udah bagus, saya revisi semuanya :D

See yaaa!! :*