Monday, December 13, 2010

MDGs: menyoroti kesetaraan gender.

Hari Sabtu kemarin saya ikut seminar keren, pembicaranya ga usah ditanya, pakar semua dan mereka ga usah diraguin lagi kemampuannya, ada Pak Hendar, Deputi Kebijakan Moneter BI, Ibu Vivi Alatas, salah satu pejabat World Bank, Bapak Soebandi Sardjoko, selaku Direktur Kependudukan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Bappenas dan Ibu Prof. Rina Indiastuti, ekonom super canggih dari Unpad.hahaha.. :D.

Apaan sih MDGs?

Millenium Development Goals 2010, suatu rumusan tentang tujuan untuk tahun 2015, bukan hanya di Indonesia, tapi hampir diseluruh dunia turut memperhatikan permasalahan permasalahan ini. Point-point dalam MDGs adalah:

1. Poverty and hunger (kemiskinan dan kelaparan)
2. Basic Education (pendidikan dasar)
3. Gender Equality (kesetaraan gender)
4. Children Mortality (kematian anak-anak)
5. Maternal Health (kesehatan ibu)
6. HIV/AIDS
7. Environment (lingkungan)
8. The Global Partnership for Development (kemitraan pembangunan global)

Dari kedelapan point tersebut beberapa diantaranya mengalami perbaikan yang signifikan, baik dalam skala global, nasional ataupun daerah. Tapi disini saya hanya akan menyoroti point no 3: Gender Equality dalam pendidikan di Indonesia.

Umumnya, dalam masalah gender pihak perempuanlah yang dirugikan. Sering diibaratkan perempuan adalah objek dalam etalase dan lelakilah yang punya kuasa untuk menunjuk satu diantaranya dan kemudian memilikinya. Itu adalah sebuah pandangan kuno yang sangat low educated, setidaknya menurut saya. Apalagi masalah poligami yang kemarin sempat santer diberitakan, lagi-lagi menurut saya perempuanlah objek penderita. Eits, jangan bilang saya liberal, atau bukan muslim. Saya muslim, dan saya melihat dalil tentang poligami itu dijadikan tameng bagi mereka yang salah kaprah.

Lalu, apa hubugannya dengan pendidikan?

Mengutip dari pembicaraan Bapak Soebandi kemarin, angka kesetaraan gender di tingkat sekolah dasar sampai sekolah menengah atas di Indonesia meningkat. Perbandingan jumlah siswa dan siswi cenderung seimbang dibandingkan beberapa tahun yang lalu.

Namun gap terlihat di tingkat perguruan tinggi. Hasil research menunjukkan bahwa anak perempuanlah yang lebih banyak melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi dan mendapatkan nilai cumlaude, “jangan salahkan anak perempuan, kemana nih anak cowo-cowonya??”, cetus Pak Soebandi.

Menjawab pertanyaan itu, muncul pemikiran yang ada tololnya tapi ada benernya juga:

1. Laki-laki mungkin lebih tertarik kerja.

Ga usah nyangkal, tuntutan ekonomi semua dibebankan kepada pihak laki-laki. Bisa diinjek-injek harga dirinya kalo masih nganggur.

2. Lebih suka main cewe’ daripada main kalkulator.

Mulai ngaco..

3. Makin banyak yang pengen jadi artis.

Ngaco lagi.

4. Merriage orientation.

Yang ini mungkin bener.

Gagal lagi bikin tulisan yang lebih ilmiah, segini dulu cukup ya temans, semi ilmiah juga lumayan kan?? Ada saatnya kalau mood saya udah bagus, saya revisi semuanya :D

See yaaa!! :*

No comments:

Post a Comment