Aku paham, aku tahu, aku mengerti dan –ehem, aku tidak terlalu bodoh. Hanya saja otakku sama sekali enggan dikontrol, enggan dikungkung dalam bentuk apapun. Aku bebas sebebas bebasnya, aku berpikir apa yang ingin aku pikirkan. Tanpa kecuali, bahkan untuk sesuatu yang dianggap tidak pantas untuk dipikirkan. Itu semua membuatku kurang peka dengan perasaan orang lain. Aku ingin hidup dengan caraku, tapi aku tidak pernah memaksa oranglain mengikutiku.
Kau datang, dengan segala kebahagiaan yang tak terperi, selalu membuatku tertawa dan –yeah tanpa kau sadari aku selalu merindumu. Pun dirimu yang kuat dengan aturan. Tapi entahlah, aku selalu mengikuti apa yang kau mau, aku tidak punya pendirian, aku terlihat tolol tapi sialnya aku tidak pernah merasa tolol. Apapun yang kau larang selalu beralasan, alasannya selalu benar, dan selalu bertemakan “demi kebaikanku”. Dewa, benar-benar dewa!
Kau membuatku melawan arus, berdiri dan hidup sebagai orang lain. Hey, it’s not me! Batinku menjerit.Tapi malangnya aku nyaman dengan semua instruksimu, aku merasa diperhatikan dan DISAYANG. Itu yang membuatku bertahan, aku GILAAAAA!!! Tapi aku tidak bodoh, sekali pemirsa, aku tidak bodoh karena secara sadar aku mendukungnya merubahku. Tidak usah kalian, aku saja sama sekali tidak mengerti. NOL besar.